BAB I
Pembahasan
Populasi dan Sample
A.
Populasi
Populasi berasal dari bahasa inggris
yaitu population, yang berati
jumlah penduduk[1].
Oleh karena itu , apabila disebutkan kata pupulasi, orang kebanyakan
menghubungkanya dengan masalah-masalah kependudukan. Hal tersebut ada benarnya
juga, karena itulah makna kata populasi yang sesungguhnya. Kemudian pada
perkembangan selanjutnya, kata populasi menjadi populer dan diguakan beberapa
disiplin ilmu. Populasi juga bisa
diartikan wilayah generalisasi yang
terdiri atas; objek atau sobjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk di pelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya[2].
Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga objek dan benda-benda alam yang
lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek atau subjek yang
dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki
sobjek atau objek itu.
Didalam metode penelitian kata
populasi amat populer digunakan untuk menyebutkan serumpun atau sekelompok
objek yang menjadi sasaran penelitian. Oleh karen itu populasi penelitian
merupakan keseluruhan dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan,
tumbuh-tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya.
Sehingga objek-objek ini dapat menjadi sumber data penelitian. populasi
sangaltlah beragam apabila kita melihat dari penentuan sumber data dapat dibedakan
sebagai berikut[3]:
1.
Populasi
terbatas yaitu populasi yang memiliki sumber data yang jelas batasnya secara
kuantitatif. Contoh: jumlah mahasiswa manajemen dakwah pada thun 2014 sebanyak
150 mahasiswa, terdiri dari 80 mahasiswa putra dan 70 mahasiswi putri.
2.
Populasi
tak terhingga, yaitu pupulasi yang memiliki sumber data yang tidak dapat
ditentukan batas-batasanya secara kuantitatif. Oleh karen itu populasi tak
terhungga hanya dapat dijelaskan secara kualitatif. Contoh : jumlah oramg
miskin di Indonesia. Berarti kita harus menghitung jumlah orang miskin di
indonesia dari tahun ketahun, dan dari tiap-tiap kota. Tidak saja perhitungan
terhadapat jumlah orang miskin yang ada sekarang, tetapi juga dilakukan
penafsiran jumlah gelandangan di waktu yang akan datang.
Kemudian dilihat dari kompleksitas
objek populasi, maka populasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1.
Populasi
homogen yaitu keseluruhan individu yang menjadi anggota populasi, memiliki
sifat-sifat yang relatif sama satu sama lainya. Sifat ini banyak dijumpai pada
medan eksata, contohnya : zoko sedang membuat secangkir kopi, untuk mengetahui
kadar gula yang diinginkan dari secangkir kopi tersebut, cukup hanya dengan
mencoba setitik cairan kopi.
2.
Populasi
heterogen yaitu keseluruhan individu anggota relatif memiliki sifat-sifat
individual, di mana sifat tersebut membedakan individu anggota populasi yang
satu dengan yang lainya. Dengan kata lain bahwa individu anggota populasi
memiliki sifat yang berfariasi sehingga memerlukan penjelasan terhadap
sifat-sifat tersebut baik secara kuantitatif dan kualitatif.
B.
Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut[4].
Sampel juga bisa diartikan dengan bagian dari populasi yang dipilih mengikuti
prosedur tertentu sehingga dapat mewakili populasinya[5].
Sampel dikatakan reperesentatif atau ideal apabila karakteristik sampel dengan
karakteristik populasi. Sumardi suryabrata (1988;91) menjelaskan, bahwa ada
empatparameter yang bisa dianggap menentukan representativeness suatau sampel
yaitu;
1.
Varibilitas
populasi.
2.
Besar
sample.
3.
Tekhnik
pengambilan sample.
4.
Kecermatan
memasukan ciri-ciri populasi.
Patton dalam norman dan Yvonna;
228-229, memberi petunjuk secara garis besar tentang sampling sebagai berikut:
1.
Extreme
ordiviant case sampling, yaitu bila
peneliti betul-betul ingin menunjuk sampel .
2.
Intensity
sanpling yaitu peneliti menyeleksi
partisipan yang berpengalaman di bidang keahlian dan mempunyai otoritas tentang
pengalaman itu.
3.
Maxsimumvariety
sampling yaitu proses dalam seleksi sampel
yang hetrogen dan mengamati pengalaman umum mereka.
4.
Critial
case sampling yaitu seleksi
sample secara signifikan untuk mengedintifikasi peristiwa-peristiwa kritis yang
akan di generelisasi pada situasi lain.
C.
Teknik Sampling
Teknik sampling adalah teknik
pengambilan sampel. Untuk pengambilan sampel yang akan digunakan dalam
penelitian, terhadapat berbagai teknik sampling yang digunakan. Menerut
Sutrisno Hadi (1980;81-86) yaitu sebagai berikut[6]:
1.
Random
sampling.
2.
Propotional
sampling.
3.
Stratified
sampling.
4.
Purposive
sampling.
5.
Qouta
sampling.
6.
Double
sampling.
7.
Area
probability sampling.
8.
Cluster
sampling.
Ada beberapa teknik dalam
pengambilan sampel, namun secara garis besar dapat dibagi menjadi dua[7]:
a.
Probability Sampling atau Random Sampling
1.
Simple
random sampling
Simple random sampling atau
pengambilan sample secara acak sederhana,yaitu sebuah sample yang diambil
sedemikian rupa sehingga tiap unit penelitian atau satuan elemen dari populasi
mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sample. Contoh; apabila
kita ingin mengambil populasi dari sebuah desa maka semua anggota dicatat dan
diberi nomer urut, kemudian nomer-nomer inilah yang diundi untuk dijadikan
sebuah sampel yang dibutuhkan.
2.
Propotional
sampling
Jika populasi terdiri dari beberapa
sub-populasi yang tidak homogen dan tiap-tiap populasi akan diwakili dalam
penyelidikan, maka pada prinsipnya dapat ditempuh dua jalan yakni:
1.
Mengambil
sampel dari tiap-tiap sub-populasi tanpa memperhitungkan besar kecilnya
sub-populasi,
2.
Mengambil
sempel dari tiap-tiap sub-populasi dengan memperhitungkan besar kecilnya
sub-sub populasi itu.
Contoh: dalam sebuah perusahaan yang
mempunyai karyawan dari latar belakang yang bersetrata. Misalnya jumlah pegawai
yang lulusan S2=34, S3= 50, S1=60, STM=700, ST=500, SD= 300. Jumlah sampel yang
harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut.
3.
Disproporsional
stratified random sampling
Disproporsional stratified random sampling adalah teknik yang
hampir mirip dengan proportionate stratified random sampling dalam hal
heterogenitas populasi. Namun, ketidakproporsionalan penentuan sample
didasarkan pada pertimbangan jika anggota populasi berstrata namun kurang
proporsional pembagiannya[8].
Contoh : populasi karyawan PT. XYZ
berjumlah 1000 orang yang berstrata berdasarkan tingkat pendidikan SMP, SMA,
DIII, S1 dan S2. Namun jumlahnya sangat tidak seimbang yaitu :
SMP : 100 orang
SMA : 700 orang
DIII : 180 orang
S1 : 10 orang
S2 : 10 orang
Jumlah
karyawan yang berpendidikan S1 dan S2 ini sangat tidak seimbang (terlalu kecil
dibandingkan dengan strata yang lain) sehingga dua kelompok ini seluruhnya
ditetapkan sebagai sampel.
4.
Cluster
Sampling
Cluster sampling atau sampling area
digunakan jika sumber data atau populasi sangat luas misalnya penduduk suatu
propinsi, kabupaten, atau karyawan perusahaan yang tersebar di seluruh
provinsi. Untuk menentukan mana yang dijadikan sampelnya, maka wilayah populasi
terlebih dahulu ditetapkan secara random, dan menentukan jumlah sample yang
digunakan pada masing-masing daerah tersebut dengan menggunakan teknik
proporsional stratified random sampling mengingat jumlahnya yang bisa saja
berbeda.
Contoh :Saya ingin mengetahui
tingkat efektivitas proses belajar mengajar di tingkat SMU. Populasi penelitian
adalah siswa SMA seluruh Indonesia. Karena jumlahnya sangat banyak dan terbagi
dalam berbagai provinsi, maka penentuan sampelnya dilakukan dalam tahapan
sebagai berikut :
Tahap
Pertama adalah menentukan sample daerah. Misalnya ditentukan secara acak 10
Provinsi yang akan dijadikan daerah sampel.
Tahap
kedua. Mengambil sampel SMU di tingkat Provinsi secara acak yang selanjutnya
disebut sampel provinsi. Karena provinsi terdiri dari Kabupaten/Kota, maka
diambil secara acak SMU tingkat Kabupaten yang akan ditetapkan sebagai sampel
(disebut Kabupaten Sampel), dan seterusnya, sampai tingkat kelurahan / Desa
yang akan dijadikan sampel. Setelah digabungkan, maka keseluruhan SMU yang
dijadikan sampel ini diharapkan akan menggambarkan keseluruhan populasi secara
keseluruhan.
b.
Non Probabilty Sampel
Non
Probability artinya setiap anggota populasi tidak memiliki kesempatan atau
peluang yang sama sebagai sampel. Teknik-teknik yang termasuk ke dalam Non
Probability ini antara lain : Sampling Sistematis, Sampling Kuota, Sampling
Insidential, Sampling Purposive, Sampling Jenuh, dan Snowball Sampling[9].
1.
Sampling
Kuota,
Adalah
teknik sampling yang menentukan jumlah sampel dari populasi yang memiliki ciri
tertentu sampai jumlah kuota (jatah) yang diinginkan.
Contoh ; akan dilakukan penelitian
tentang persepsi mahasiswa MD semester 5 terhadap kemampuan mengajar dosen.
Jumlah lokal adalah 12, maka sampel kuota dapat ditetapkan masing-masing 2
siswa per sekolah.
2.
Sampling Insidential,
Insidential merupakan teknik penentuan sampel secara
kebetulan, atau siapa saja yang kebetulan (insidential) bertemu dengan peneliti
yang dianggap cocok dengan karakteristik sampel yang ditentukan akan dijadikan
sampel.
contoh: Penelitian tentang kepuasan pelanggan
pada pelayanan Mall A. Sampel ditentukan berdasarkan ciri-ciri usia di atas 15
tahun dan baru pernah ke Mall A tersebut, maka siapa saja yang kebetulan
bertemu di depan Mall A dengan peneliti (yang berusia di atas 15 tahun) akan
dijadikan sampel.
3.
Sampling Purposive,
Purposive sampling merupakan teknik penentuan
sampel dengan pertimbangan khusus sehingga layak dijadikan sampel. Contoh :Misalnya,
penelitian tentang pola pembinaan olahraga boal. Maka sampel yang diambil
adalah pelatih-pelatih renang yang dianggap memiliki kompetensi di bidang ini.
Atau sesoran ingin meneliti pternakan ikan lele maka sempel yang diamabil
adalah orang yang ahli dalam bidang ini. Teknik ini biasanya dilakukan pada
penelitian kualitatif.
4.
Sampling Jenuh,
Sampling jenuh adalah sampel yang mewakili
jumlah populasi. Biasanya dilakukan jika populasi dianggap kecil atau kurang
dari 100. Saya sendiri lebih senang menyebutnya total sampling.
Contoh :
Misalnya akan dilakukan penelitian tentang kinerja dosen di Fakultas Dakwah dan
Komunikasi Jakarta. Karena jumlah dosen hanya70, maka seluruh dosen dijadikan
sampel penelitian.
5.
Snowball Sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan
jumlah sampel yang semula kecil kemudian terus membesar ibarat bola salju
(seperti Multi Level Marketing). Contoh ; Misalnya akan dilakukan penelitian
tentang pola peredaran narkoba di wilayah A. Sampel mula-mula adalah 5 orang
Napi, kemudian terus berkembang pada pihak-pihak lain sehingga sampel atau
responden teruuus berkembang sampai ditemukannya informasi yang menyeluruh atas
permasalahan yang diteliti.
6.
Sampling Gugus Bertahap
Kalau
kita mengadakan penelitian denagn populasi dari sebuah propinsi, sedangkan yang
harus menjadi sampel hanya sepuluh buah desa saja. Ini berarti kita harus
menyeleksi sekian banyak desa yank ada dalam propinsi tersebut untuk dijadikan
sampel. Oleh karena itu, teknik sampling Gugus Bertahap dapat digunakan untuk
keperluan tersebut.
Contoh,
apabila kita meneliti efektifitas penyeluhan pertanian melalui radio masyarakat
di propinsi pekanbaru, sempel yamg kita perlukan hanya delapan desa, dengan
perbandingan empat desa surplus pertanian dan empat desa lagi adalah desa minus
pertanian. Untuk mendapat delapan desa dengan kereteria masing-masing tersebut,
kita pilih beberapa kabupaten. Misalnya kita pilih dua kabupaten, yang
terdiri satu kabupaten surplus dan minus
pertanian. Dari dua kabupaten tersebut kita ambil emapat kecamatan, dengan perbandingan
dua kecamatan dua surplus pertanian dan dua kecamatan minus pertanian. Dari
setiap kecamatan tersebut kita ambil lagi masing-masing dua desa dengan
perbandingan surplus minus seperti diatas sehingga keseluruhanya ada delapan
desa yang merupakan desa sampel.
7.
Double Sampling
Biasanya juga teknik ini disebut denagan sampel
kembar. Teknik ini amat bermanfaat bagi penelitian yang populasinya besar.
Contoh ; bisa menggunakan angket.
8.
Multifarios Sampling
Multifarios Sampling sesungguhnya kombinasi dari
beberapa teknik sampling, baik probabilitas maupun non probabilitas. Makanya
beberapa peneliti juga menyebutkan teknik ini dengan Combined Sampling.
Misalnya, kalau kita meneliti kebiasaan remaja dkota pekanbaru yang menonton
tayangan GGS di media masa maka yang menjadi populasi adalah seluruh remaja
pekanbaru yang ada di pekanbaru.
9.
Sampling stamatis
Sampling stamatis adalah teknik pengambilan
sampling berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut.
Contoh; misalnya jumlah mahasiswa MD 150. Dari semua anggota itu diberi nomor
dari 1 sampe 150. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil atau
genap.
D.
KESIMPULAN
Populasi adalah seluruh data yang menjadi
perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. Jadi
populasi berhubungan dengan data, bukan manusianya. Kalau setiap manusia
memberikan suatu data maka, maka banyaknya atau ukuran populasi akan sama
dengan banyaknya manusia sedangkan sampel adalah sebagai bagian dari populasi.
Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai
dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan
memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang
representatif. Teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua
yaitu Probability Sampling dan Nonprobability Sampling. Probability sampling
adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur
anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik sampel ini meliputi:
simple random sampling, proportionate stratified random sampling,
disproportionate stratified random sampling, dan area (cluster) sampling
(sampling menurut daerah). Nonprobability sampling adalah teknik yang tidak
memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi
untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi: sampling sistematis,
sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh, dan
snowball sampling, Multifarios Sampling, double Sampling, sampling gugus
bertahap.
Daftar Putaka
Bungin, metodologi
penelitian kuantitatif. kencana, jakarta 2008
Prof. Dr.
Sugiyono.metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&F,Alfabeta,
Cv, Bandung 2014
Sugiyono, metode
penelitian kombinasi. Alvabeta,cv.
jakarta 2013
Kmaruddin. metode
Penelitian Kuantitatif. . Suska Press. pekanbaru 2012
Moh, kasiram. Metodologi
Penelitian kuantitatif-kualitatif. Uin Maliki press. Yogyakarta, 2010
Nazir, Metode
Penelitian. Ghalia Indonesia, bogor. 2005
[1] Burhan
bungin, metodologi penelitian kuantitatif. Cet,3( jakarta,
kencana, 2008). Hal.99
[2] Prof.
Dr. Sugiyono.metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&F, (Bandung,
Alfabeta, Cv, 2014) hal. 80
[3] Ibid 99
[4]
Sugiyono, metode penelitian kombinasi. (jakarta, Alvabeta,cv. 2013). Hal
121
[5]
Kmaruddin. metode Penelitian Kuantitatif. (pekanbaru. Suska Press.
2012). Hal. 64
[6] Moh,
kasiram. Metodologi Penelitian kuantitatif-kualitatif. (Yogyakarta, Uin
Maliki press. 2010). Hal 259
[7] Ibid 81
[8] Nazir, Metode
Penelitian. (bogor, Ghalia Indonesia, cet, 6. 2005) hal. 291
[9] Opcit
115
Tidak ada komentar:
Posting Komentar