Pages

Senin, 15 Desember 2014

metopel



BAB I
Pembahasan
Populasi dan Sample
A.    Populasi
Populasi berasal dari bahasa inggris yaitu population, yang berati  jumlah penduduk[1]. Oleh karena itu , apabila disebutkan kata pupulasi, orang kebanyakan menghubungkanya dengan masalah-masalah kependudukan. Hal tersebut ada benarnya juga, karena itulah makna kata populasi yang sesungguhnya. Kemudian pada perkembangan selanjutnya, kata populasi menjadi populer dan diguakan beberapa disiplin ilmu. Populasi  juga bisa diartikan  wilayah generalisasi yang terdiri atas; objek atau sobjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk di pelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya[2]. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga objek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek atau subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki sobjek atau objek itu.
Didalam metode penelitian kata populasi amat populer digunakan untuk menyebutkan serumpun atau sekelompok objek yang menjadi sasaran penelitian. Oleh karen itu populasi penelitian merupakan keseluruhan dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya. Sehingga objek-objek ini dapat menjadi sumber data penelitian. populasi sangaltlah beragam apabila kita melihat dari penentuan sumber data dapat dibedakan sebagai berikut[3]:
1.      Populasi terbatas yaitu populasi yang memiliki sumber data yang jelas batasnya secara kuantitatif. Contoh: jumlah mahasiswa manajemen dakwah pada thun 2014 sebanyak 150 mahasiswa, terdiri dari 80 mahasiswa putra dan 70 mahasiswi putri.
2.      Populasi tak terhingga, yaitu pupulasi yang memiliki sumber data yang tidak dapat ditentukan batas-batasanya secara kuantitatif. Oleh karen itu populasi tak terhungga hanya dapat dijelaskan secara kualitatif. Contoh : jumlah oramg miskin di Indonesia. Berarti kita harus menghitung jumlah orang miskin di indonesia dari tahun ketahun, dan dari tiap-tiap kota. Tidak saja perhitungan terhadapat jumlah orang miskin yang ada sekarang, tetapi juga dilakukan penafsiran jumlah gelandangan di waktu yang akan datang.
Kemudian dilihat dari kompleksitas objek populasi, maka populasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1.      Populasi homogen yaitu keseluruhan individu yang menjadi anggota populasi, memiliki sifat-sifat yang relatif sama satu sama lainya. Sifat ini banyak dijumpai pada medan eksata, contohnya : zoko sedang membuat secangkir kopi, untuk mengetahui kadar gula yang diinginkan dari secangkir kopi tersebut, cukup hanya dengan mencoba setitik cairan kopi.
2.      Populasi heterogen yaitu keseluruhan individu anggota relatif memiliki sifat-sifat individual, di mana sifat tersebut membedakan individu anggota populasi yang satu dengan yang lainya. Dengan kata lain bahwa individu anggota populasi memiliki sifat yang berfariasi sehingga memerlukan penjelasan terhadap sifat-sifat tersebut baik secara kuantitatif dan kualitatif.
B.     Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut[4]. Sampel juga bisa diartikan dengan bagian dari populasi yang dipilih mengikuti prosedur tertentu sehingga dapat mewakili populasinya[5]. Sampel dikatakan reperesentatif atau ideal apabila karakteristik sampel dengan karakteristik populasi. Sumardi suryabrata (1988;91) menjelaskan, bahwa ada empatparameter yang bisa dianggap menentukan representativeness suatau sampel yaitu;
1.      Varibilitas populasi.
2.      Besar sample.
3.      Tekhnik pengambilan sample.
4.      Kecermatan memasukan ciri-ciri populasi.
Patton dalam norman dan Yvonna; 228-229, memberi petunjuk secara garis besar tentang sampling sebagai berikut:
1.      Extreme ordiviant case sampling, yaitu bila peneliti betul-betul ingin menunjuk sampel .
2.      Intensity sanpling yaitu peneliti menyeleksi partisipan yang berpengalaman di bidang keahlian dan mempunyai otoritas tentang pengalaman itu.
3.      Maxsimumvariety sampling yaitu proses dalam seleksi sampel yang hetrogen dan mengamati pengalaman umum mereka.
4.      Critial case sampling yaitu seleksi sample secara signifikan untuk mengedintifikasi peristiwa-peristiwa kritis yang akan di generelisasi pada situasi lain.

C.    Teknik Sampling
Teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel. Untuk pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terhadapat berbagai teknik sampling yang digunakan. Menerut Sutrisno Hadi (1980;81-86) yaitu sebagai berikut[6]:
1.      Random sampling.
2.      Propotional sampling.
3.      Stratified sampling.
4.      Purposive sampling.
5.      Qouta sampling.
6.      Double sampling.
7.      Area probability sampling.
8.      Cluster sampling.
Ada beberapa teknik dalam pengambilan sampel, namun secara garis besar dapat dibagi menjadi dua[7]:
a.      Probability Sampling atau Random Sampling

1.      Simple random sampling
Simple random sampling atau pengambilan sample secara acak sederhana,yaitu sebuah sample yang diambil sedemikian rupa sehingga tiap unit penelitian atau satuan elemen dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sample. Contoh; apabila kita ingin mengambil populasi dari sebuah desa maka semua anggota dicatat dan diberi nomer urut, kemudian nomer-nomer inilah yang diundi untuk dijadikan sebuah sampel yang dibutuhkan.



2.      Propotional sampling
Jika populasi terdiri dari beberapa sub-populasi yang tidak homogen dan tiap-tiap populasi akan diwakili dalam penyelidikan, maka pada prinsipnya dapat ditempuh dua jalan yakni:
1.      Mengambil sampel dari tiap-tiap sub-populasi tanpa memperhitungkan besar kecilnya sub-populasi,
2.      Mengambil sempel dari tiap-tiap sub-populasi dengan memperhitungkan besar kecilnya sub-sub populasi itu.
Contoh: dalam sebuah perusahaan yang mempunyai karyawan dari latar belakang yang bersetrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulusan S2=34, S3= 50, S1=60, STM=700, ST=500, SD= 300. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut.
3.      Disproporsional stratified random sampling
Disproporsional stratified random sampling adalah teknik yang hampir mirip dengan proportionate stratified random sampling dalam hal heterogenitas populasi. Namun, ketidakproporsionalan penentuan sample didasarkan pada pertimbangan jika anggota populasi berstrata namun kurang proporsional pembagiannya[8].
Contoh : populasi karyawan PT. XYZ berjumlah 1000 orang yang berstrata berdasarkan tingkat pendidikan SMP, SMA, DIII, S1 dan S2. Namun jumlahnya sangat tidak seimbang yaitu :
SMP    : 100 orang
SMA    : 700 orang
DIII     : 180 orang
S1        : 10 orang
S2        : 10 orang
Jumlah karyawan yang berpendidikan S1 dan S2 ini sangat tidak seimbang (terlalu kecil dibandingkan dengan strata yang lain) sehingga dua kelompok ini seluruhnya ditetapkan sebagai sampel.

4.      Cluster Sampling
Cluster sampling atau sampling area digunakan jika sumber data atau populasi sangat luas misalnya penduduk suatu propinsi, kabupaten, atau karyawan perusahaan yang tersebar di seluruh provinsi. Untuk menentukan mana yang dijadikan sampelnya, maka wilayah populasi terlebih dahulu ditetapkan secara random, dan menentukan jumlah sample yang digunakan pada masing-masing daerah tersebut dengan menggunakan teknik proporsional stratified random sampling mengingat jumlahnya yang bisa saja berbeda.

Contoh :Saya ingin mengetahui tingkat efektivitas proses belajar mengajar di tingkat SMU. Populasi penelitian adalah siswa SMA seluruh Indonesia. Karena jumlahnya sangat banyak dan terbagi dalam berbagai provinsi, maka penentuan sampelnya dilakukan dalam tahapan sebagai berikut :
Tahap Pertama adalah menentukan sample daerah. Misalnya ditentukan secara acak 10 Provinsi yang akan dijadikan daerah sampel.
Tahap kedua. Mengambil sampel SMU di tingkat Provinsi secara acak yang selanjutnya disebut sampel provinsi. Karena provinsi terdiri dari Kabupaten/Kota, maka diambil secara acak SMU tingkat Kabupaten yang akan ditetapkan sebagai sampel (disebut Kabupaten Sampel), dan seterusnya, sampai tingkat kelurahan / Desa yang akan dijadikan sampel. Setelah digabungkan, maka keseluruhan SMU yang dijadikan sampel ini diharapkan akan menggambarkan keseluruhan populasi secara keseluruhan.
b.       Non Probabilty Sampel
Non Probability artinya setiap anggota populasi tidak memiliki kesempatan atau peluang yang sama sebagai sampel. Teknik-teknik yang termasuk ke dalam Non Probability ini antara lain : Sampling Sistematis, Sampling Kuota, Sampling Insidential, Sampling Purposive, Sampling Jenuh, dan Snowball Sampling[9].
1.      Sampling Kuota,
Adalah teknik sampling yang menentukan jumlah sampel dari populasi yang memiliki ciri tertentu sampai jumlah kuota (jatah) yang diinginkan.

Contoh ; akan dilakukan penelitian tentang persepsi mahasiswa MD semester 5 terhadap kemampuan mengajar dosen. Jumlah lokal adalah 12, maka sampel kuota dapat ditetapkan masing-masing 2 siswa per sekolah.
2.      Sampling Insidential,
Insidential merupakan teknik penentuan sampel secara kebetulan, atau siapa saja yang kebetulan (insidential) bertemu dengan peneliti yang dianggap cocok dengan karakteristik sampel yang ditentukan akan dijadikan sampel.
contoh: Penelitian tentang kepuasan pelanggan pada pelayanan Mall A. Sampel ditentukan berdasarkan ciri-ciri usia di atas 15 tahun dan baru pernah ke Mall A tersebut, maka siapa saja yang kebetulan bertemu di depan Mall A dengan peneliti (yang berusia di atas 15 tahun) akan dijadikan sampel.
3.      Sampling Purposive,
Purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan khusus sehingga layak dijadikan sampel. Contoh :Misalnya, penelitian tentang pola pembinaan olahraga boal. Maka sampel yang diambil adalah pelatih-pelatih renang yang dianggap memiliki kompetensi di bidang ini. Atau sesoran ingin meneliti pternakan ikan lele maka sempel yang diamabil adalah orang yang ahli dalam bidang ini. Teknik ini biasanya dilakukan pada penelitian kualitatif.
4.      Sampling Jenuh,
Sampling jenuh adalah sampel yang mewakili jumlah populasi. Biasanya dilakukan jika populasi dianggap kecil atau kurang dari 100. Saya sendiri lebih senang menyebutnya total sampling.
Contoh : Misalnya akan dilakukan penelitian tentang kinerja dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi Jakarta. Karena jumlah dosen hanya70, maka seluruh dosen dijadikan sampel penelitian.


5.      Snowball Sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan jumlah sampel yang semula kecil kemudian terus membesar ibarat bola salju (seperti Multi Level Marketing). Contoh ; Misalnya akan dilakukan penelitian tentang pola peredaran narkoba di wilayah A. Sampel mula-mula adalah 5 orang Napi, kemudian terus berkembang pada pihak-pihak lain sehingga sampel atau responden teruuus berkembang sampai ditemukannya informasi yang menyeluruh atas permasalahan yang diteliti.
6.      Sampling Gugus Bertahap
Kalau kita mengadakan penelitian denagn populasi dari sebuah propinsi, sedangkan yang harus menjadi sampel hanya sepuluh buah desa saja. Ini berarti kita harus menyeleksi sekian banyak desa yank ada dalam propinsi tersebut untuk dijadikan sampel. Oleh karena itu, teknik sampling Gugus Bertahap dapat digunakan untuk keperluan tersebut.
Contoh, apabila kita meneliti efektifitas penyeluhan pertanian melalui radio masyarakat di propinsi pekanbaru, sempel yamg kita perlukan hanya delapan desa, dengan perbandingan empat desa surplus pertanian dan empat desa lagi adalah desa minus pertanian. Untuk mendapat delapan desa dengan kereteria masing-masing tersebut, kita pilih beberapa kabupaten. Misalnya kita pilih dua kabupaten, yang terdiri  satu kabupaten surplus dan minus pertanian. Dari dua kabupaten tersebut kita ambil emapat kecamatan, dengan perbandingan dua kecamatan dua surplus pertanian dan dua kecamatan minus pertanian. Dari setiap kecamatan tersebut kita ambil lagi masing-masing dua desa dengan perbandingan surplus minus seperti diatas sehingga keseluruhanya ada delapan desa yang merupakan desa sampel.
7.      Double Sampling
Biasanya juga teknik ini disebut denagan sampel kembar. Teknik ini amat bermanfaat bagi penelitian yang populasinya besar. Contoh ; bisa menggunakan angket.
8.      Multifarios Sampling
Multifarios Sampling sesungguhnya kombinasi dari beberapa teknik sampling, baik probabilitas maupun non probabilitas. Makanya beberapa peneliti juga menyebutkan teknik ini dengan Combined Sampling. Misalnya, kalau kita meneliti kebiasaan remaja dkota pekanbaru yang menonton tayangan GGS di media masa maka yang menjadi populasi adalah seluruh remaja pekanbaru yang ada di pekanbaru.
9.      Sampling stamatis
Sampling stamatis adalah teknik pengambilan sampling berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Contoh; misalnya jumlah mahasiswa MD 150. Dari semua anggota itu diberi nomor dari 1 sampe 150. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil atau genap.










D.    KESIMPULAN
Populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. Jadi populasi berhubungan dengan data, bukan manusianya. Kalau setiap manusia memberikan suatu data maka, maka banyaknya atau ukuran populasi akan sama dengan banyaknya manusia sedangkan sampel adalah sebagai bagian dari populasi. Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif. Teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu Probability Sampling dan Nonprobability Sampling. Probability sampling adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik sampel ini meliputi: simple random sampling, proportionate stratified random sampling, disproportionate stratified random sampling, dan area (cluster) sampling (sampling menurut daerah). Nonprobability sampling adalah teknik yang tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi: sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh, dan snowball sampling, Multifarios Sampling, double Sampling, sampling gugus bertahap.









Daftar Putaka
Bungin, metodologi penelitian kuantitatif. kencana, jakarta 2008
Prof. Dr. Sugiyono.metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&F,Alfabeta, Cv, Bandung 2014
Sugiyono, metode penelitian kombinasi.  Alvabeta,cv. jakarta 2013
Kmaruddin. metode Penelitian Kuantitatif. . Suska Press. pekanbaru 2012
Moh, kasiram. Metodologi Penelitian kuantitatif-kualitatif. Uin Maliki press. Yogyakarta, 2010
Nazir, Metode Penelitian. Ghalia Indonesia, bogor. 2005


[1] Burhan bungin, metodologi penelitian kuantitatif. Cet,3( jakarta, kencana, 2008). Hal.99
[2] Prof. Dr. Sugiyono.metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&F, (Bandung, Alfabeta, Cv, 2014) hal. 80
[3] Ibid 99
[4] Sugiyono, metode penelitian kombinasi. (jakarta, Alvabeta,cv. 2013). Hal 121
[5] Kmaruddin. metode Penelitian Kuantitatif. (pekanbaru. Suska Press. 2012). Hal. 64
[6] Moh, kasiram. Metodologi Penelitian kuantitatif-kualitatif. (Yogyakarta, Uin Maliki press. 2010). Hal 259
[7] Ibid 81
[8] Nazir, Metode Penelitian. (bogor, Ghalia Indonesia, cet, 6. 2005) hal. 291
[9] Opcit 115

Tidak ada komentar:

Posting Komentar